12 Oktober 2013
Aku berasa menjilat lagi ludah yang telah aku keluarkan.
Bagaimana tidak? Setelah aku bersumpah serapah tidak akan ke Semeru lagi, pada
hari ini aku berangkat dari Malang ke Ranu Pani untuk mendaki lagi. Ada
perasaan semacam rindu (?) yang membisikkan hatiku untuk kembali menjamah di
gunung tertinggi di pulau Jawa ini.
Kali ini aku hanya berlima dengan Chabib, Agung, Rima dan
Nuri. Kami semua berangkat nekat dari Malang dengan bekal yang belum memadahi
terutama bekal fisik yang kuat. Sesampainya di pos persimpangan Bromo – Semeru,
kami dicegat oleh bapak-bapak yang berjaga di pos tersebut, mereka mengatakan
bahwasannya jalan menuju Ranu Pani sementara ditutup karena ada perbaikan
jalan. Alternatifnya, jika ingin lelah berjalan namun sedikit berhemat, bisa
berjalan. Namun bila tidak ingin lelah terlebih dahulu, kami semua naik ojek.
Setelah berunding, kami memutuskan untuk naik ojek. Tarifnya mahal sekali! Rp
15.000,00 untuk sekali jalan, aku yang merasa menjadi tour guide dari kelima temanku merasa tidak enak karena, pada
sebelumnya aku hanya menganggarkan perjalanan ini menghabiskan dana Rp
37.500,00 saja.
Setelah sampai pada jalan yang telah ditutup, kami dipaksa
untuk berjalan kembali. Udaranya kurang bersahabat , sangat dingin. Sehabis kita
melewati kurang lebih 500 meter, kami naik ojek lagi untuk ke Ranu Pani. Dan lagi-
lagi kita mengeluarkan uang Rp 15.000,00 lagi!!
Pada malam itu, kami semua sampai di desa terakhir sebelum
berjalan ke Gunung Semeru. Setelah berbenah
dan memantapkan diri, kami berangkat beriringan dengan formasi Aku, Agung,
Nuri, Rima dan Chabib. Aku ditaruh depan karena yang tahu jalannya dan Chabib
ditaruh dibelakang karena dia yang paling tinggi sehingga memungkinkan dia
memeriksa jumlah anggota dan harus selalu dipastikan berjumlah lima.
Trekking malam memang susah dan
kami semua di tuntut harus extra hati-hati! Jalannya sangat panjang dan kami
fisik kami semua masih dibawah standar karena itu, perjalanan Ranu Pani – Ranu Kumbolo
kita menghabiskan waktu 6 jam. What a
waste!
Di perjalanan pos 3 ke pos 4,
Agung yang sedari tadi membawa carrier
kurang dapat melihat adanya lobang yang cukup besar. Parahnya lobang tersebut mudah
longsor. Agung terperosok dan hampir saja jatuh ke jurang serta kehilangan
nyawanya! Semua yang dibelakang teriak dan aku yang sedari tadi di depan
bergegas melihat kondisi Agung yang malang itu. Beruntungnya Chabib cukup
cekatan menggapai tangan kiri Agung dengan sangat kuat. Karena posisi kami yang
menegangkan itu, para pendaki lain juga bergegas ke tempat kami dan berniat
menolong Agung yang sama sekali belum bisa ditarik ke atas dan Chabib hanya
bisa menahannya. Bukan pertolongan yang kami dapat, malah pendaki itu ikut
terperosok ke jurang yang sama. Entah karena apa, mungkin karena hormon Adrenal
dan seatas izin Allah dengan sekali tarik oleh tangan kananku, pendaki tadi
terangkat dan dapat terselamatkan. Sekarang giliran Agung yang harus segera
tertolong karena aku yakin Chabib tidak lama lagi dapat menahan Agung. Kami
semua membantu Chabib untuk dapat menarik Agung ke atas. Dan akhirnya
berhasil!!! Kami semua berhenti sejenak menenangkan diri masing-masing atas
kejadian apa yang telah terjadi. Setelah tenang, kami semua meneruskan
perjalanan dengan extra hati-hati dan penuh konsentrasi.
Kami semua telah sampai di Ranu
Kumbolo, karena udaranya sangat dingin, kami bergegas mendirikan tenda. Dan mulai
beristirahat di dalam kantung tidur kami masing-masing di “gubug derita” kami.