Selasa, 15 Oktober 2013

Semeru part 2 [13 Oktober 2013]

13 Oktober 2013
Suasana di”gubug derita” kami sudah ramai. Aku yang semula tidur nyenyak dan bermimpi indah terjaga dari tidurku. Rupanya mereka semua mulai lapar karena sedari malam belum makan. Aku dimintai tolong untuk memasak makanan di luar “gubug derita” kami. Setelah aku keluar, Ranu Kumbolo berwarna putih dan sangat dingin. Belum ada matahari pagi itu. Aku kedinginan luar biasa dan akhirnya menyerah untuk memasak waktu itu. Aku masuk “gubug derita” lagi.
Setelah matahari mulai naik dan suasana mulai sedikit lebih hangat, kami mulai memasak makanan untuk sarapan.
Perut kami sudah terisi penuh, lumayan lah. Dan kami mulai mengambil foto sebagai kenang-kenangan long weekend di surga gunung Semeru ini. Hari kian panas dan kami semua memutuskan untuk “ngadem” di pinggir Ranu.

Puas bermain membuat kita lupa waktu. Kami benar-benar tidak bisa bersantai-santai lagi mengingat hari sudah sore. Sesudah makan dan packing kami kembali berjalan ke Ranu Pani. Namun di jalan, tas Chabib sobek dan kami harus menjahitnya. Waktu kami tersita banyak disini.
Hari semakin gelap dan kabut mulai menebal. Kami berlima sampai di Ranu Pani pukul 8 malam. Pos lapor turun sudah tutup sedangkan kami harus pulang malam itu. Kami semua bingung mencari petugas di Ranu Pani dan akhirnya ketemu.
Setelah lapor pulang, kami semua naik ojek lagi. Anehnya malam itu angin berhembus sangat kencang dan udara semakin dingin bagi kami berlima. Sesampainya di pembatas jalan, kami berlima harus berjalan kembali untuk naik ojek ke parkiran sepeda di bawah. Di perjalanan, Nuri yang sedari tadi memang nampak kurang fit pingsan. Aku takut sekali, untung dia pingsan dan jatuh ke kiri, bagaimana bila ke kanan? [kanan jurang]. Air yang tinggal satu botol dan di pegang oleh Nuri jatuh menggelinding ke sebelah kanan. Aku semakin bingung, Nuri butuh minum dan dengan apa kita memberinya minum?. Lama sekali dia pingsan dan udara semakin dingin, kami takut bila dia terus disitu masalahnya kian melebar. Hypothermia misalnya. Akhirnya Agung menggendong Nuri. Walaupun tidak sampai ke ujung jalan, namun setidaknya kami mencari tempat yang lebih hangat daripada tadi.
Beruntung ada pendaki lewat, Nuri diberi air minum. Semua badannya telah kami beri minyak kayu putih berharap dia tidak akan kedinginan dan segera sadar. Tak lama kemudian Nuri mulai tersenggal-senggal nafasnya dan sedikit demi sedikit sadar.
Setelah tersadar, ada dua orang bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Kami semua segera memberhentikan motor tadi  sehingga Nuri bisa turun ke pos ojek tanpa harus jalan lagi. Beruntungnya bapak tadi baik sekali dan mau menolong kami. Nuri diangkut. Setidaknya hati kami tenang. Kami terus berjalan di hembusan angin yang kian kencang di sebelah gunung Tengger. Akhirnya sampai juga di pos ojek. Kami semua segera menyusul Nuri yang sudah sampai di parkiran terlebih dahulu.
Di parkiran, Nuri dirawat baik oleh penjaga disitu, Nuri di pijit-pijit dan didudukkan di dekat perapian. Aku cukup lega melihatnya.

Setelah cukup hangat, kami semua kembali ke Malang. Chabib dan Agung meneruskan perjalanan mereka ke Pasuruan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar