tx merupakan jalur transmit/pengiriman data
rx adalah jalur receive/penerima data
Jumat, 06 Desember 2013
Sabtu, 30 November 2013
Analog vs Digital
Data Analog disebarluaskan melalui gelombang elekromagnetik (gelombang radio) secara terus menerus, yang banyak dipengaruhi oleh faktor ”pengganggu”. Analog merupakan bentuk komunikasi elektromagnetik yang merupakan proses pengiriman sinyal pada gelombang elektromagnetik. Jadi sistem analog merupakan suatu bentuk sistem komunikasi elektromagnetik yang menggantungkan proses pengiriman sinyalnya pada gelombang elektromagnetik.
Teknologi analog merupakan teknologi yang masih manual dimana para penggunanya masih memerlukan tahapan-tahapan tertentu untuk menggunakan teknologi tersebut. Teknologi ini belum bisa bekerja secara otomatis sehingga untuk sekarang bisa dibilang teknologi ini tidak praktis.
Salah satu contoh aplikasi teknologi analog ialah jam, jam analog berputar secara terus menerus sehingga kita bisa melihat jarumnya berada di antara angka yang ada. Ini memungkinkan kita bisa mengatakan misal jam satu lewat satu setengah menit.
sedangkan sinyal digital mempunyai bentuk gelombang persegi atau kotak.Bentuk gelombang sinyal listrik bisa dilihat dengan alat bernama osiloskop. Sinyal digital merupakan sinyal data dalam bentuk pulsa yang dapat mengalami perubahan yang tiba-tiba. sinyal digital hanya memiliki dua sinyal yaitu 0 dan 1 atau hidup dan mati. Tidak ada nilai selain itu atau di antaranya misal ½, tetapi transmisi dengan sinyal digital hanya mencapai jarak jangkau pengiriman data yang relatif dekat.
teknologi digital merupakan teknologi yang memberikan kemudahan bagi penggunanya dimana teknologi ini bisa bekerja secara otomatis dan menggunakan teknologi yang canggih. Teknologi digital merupakan kunci masa depan ini lebih praktis daripada teknologi analog. Sehingga para pengguna teknologi sekarang ini lebih memilih menggunakan teknologi digital.Walaupun teknologi digital merupakan teknologi yang canggih tetapi masih ada kelemahan dibandingkan teknologi analog, yaitu Teknologi analog lebih awet atau tahan lama dibandingkan teknologi digital.
Berbeda dengan jam analog, jam digital merupakan aplikasi dari teknologi digital memiliki keakuratan lebih canggih bisa menunjukkan detik, hingga jam digital dengan pembagian seperjuta detik seperti yang dipergunakan untuk laboratorim, yang hal ini tentu tidak akan bisa dilakukan oleh jam analog.
Selasa, 15 Oktober 2013
Semeru part 2 [13 Oktober 2013]
13 Oktober 2013
Suasana di”gubug derita” kami
sudah ramai. Aku yang semula tidur nyenyak dan bermimpi indah terjaga dari
tidurku. Rupanya mereka semua mulai lapar karena sedari malam belum makan. Aku
dimintai tolong untuk memasak makanan di luar “gubug derita” kami. Setelah aku
keluar, Ranu Kumbolo berwarna putih dan sangat dingin. Belum ada matahari pagi
itu. Aku kedinginan luar biasa dan akhirnya menyerah untuk memasak waktu itu.
Aku masuk “gubug derita” lagi.
Setelah matahari mulai naik dan
suasana mulai sedikit lebih hangat, kami mulai memasak makanan untuk sarapan.
Perut kami sudah terisi penuh,
lumayan lah. Dan kami mulai mengambil foto sebagai kenang-kenangan long weekend di surga gunung Semeru ini.
Hari kian panas dan kami semua memutuskan untuk “ngadem” di pinggir Ranu.
Puas bermain membuat kita lupa
waktu. Kami benar-benar tidak bisa bersantai-santai lagi mengingat hari sudah
sore. Sesudah makan dan packing kami
kembali berjalan ke Ranu Pani. Namun di jalan, tas Chabib sobek dan kami harus
menjahitnya. Waktu kami tersita banyak disini.
Hari semakin gelap dan kabut
mulai menebal. Kami berlima sampai di Ranu Pani pukul 8 malam. Pos lapor turun
sudah tutup sedangkan kami harus pulang malam itu. Kami semua bingung mencari
petugas di Ranu Pani dan akhirnya ketemu.
Setelah lapor pulang, kami semua
naik ojek lagi. Anehnya malam itu angin berhembus sangat kencang dan udara
semakin dingin bagi kami berlima. Sesampainya di pembatas jalan, kami berlima
harus berjalan kembali untuk naik ojek ke parkiran sepeda di bawah. Di
perjalanan, Nuri yang sedari tadi memang nampak kurang fit pingsan. Aku takut sekali, untung dia pingsan dan jatuh ke
kiri, bagaimana bila ke kanan? [kanan jurang]. Air yang tinggal satu botol dan
di pegang oleh Nuri jatuh menggelinding ke sebelah kanan. Aku semakin bingung,
Nuri butuh minum dan dengan apa kita memberinya minum?. Lama sekali dia pingsan
dan udara semakin dingin, kami takut bila dia terus disitu masalahnya kian
melebar. Hypothermia misalnya.
Akhirnya Agung menggendong Nuri. Walaupun tidak sampai ke ujung jalan, namun
setidaknya kami mencari tempat yang lebih hangat daripada tadi.
Beruntung ada pendaki lewat, Nuri
diberi air minum. Semua badannya telah kami beri minyak kayu putih berharap dia
tidak akan kedinginan dan segera sadar. Tak lama kemudian Nuri mulai
tersenggal-senggal nafasnya dan sedikit demi sedikit sadar.
Setelah tersadar, ada dua orang
bapak-bapak mengendarai sepeda motor. Kami semua segera memberhentikan motor
tadi sehingga Nuri bisa turun ke pos
ojek tanpa harus jalan lagi. Beruntungnya bapak tadi baik sekali dan mau
menolong kami. Nuri diangkut. Setidaknya hati kami tenang. Kami terus berjalan
di hembusan angin yang kian kencang di sebelah gunung Tengger. Akhirnya sampai
juga di pos ojek. Kami semua segera menyusul Nuri yang sudah sampai di parkiran
terlebih dahulu.
Di parkiran, Nuri dirawat baik
oleh penjaga disitu, Nuri di pijit-pijit dan didudukkan di dekat perapian. Aku
cukup lega melihatnya.
Setelah cukup hangat, kami semua
kembali ke Malang. Chabib dan Agung meneruskan perjalanan mereka ke Pasuruan.
Senin, 14 Oktober 2013
Semeru part 1 [12 Oktober 2013]
12 Oktober 2013
Aku berasa menjilat lagi ludah yang telah aku keluarkan.
Bagaimana tidak? Setelah aku bersumpah serapah tidak akan ke Semeru lagi, pada
hari ini aku berangkat dari Malang ke Ranu Pani untuk mendaki lagi. Ada
perasaan semacam rindu (?) yang membisikkan hatiku untuk kembali menjamah di
gunung tertinggi di pulau Jawa ini.
Kali ini aku hanya berlima dengan Chabib, Agung, Rima dan
Nuri. Kami semua berangkat nekat dari Malang dengan bekal yang belum memadahi
terutama bekal fisik yang kuat. Sesampainya di pos persimpangan Bromo – Semeru,
kami dicegat oleh bapak-bapak yang berjaga di pos tersebut, mereka mengatakan
bahwasannya jalan menuju Ranu Pani sementara ditutup karena ada perbaikan
jalan. Alternatifnya, jika ingin lelah berjalan namun sedikit berhemat, bisa
berjalan. Namun bila tidak ingin lelah terlebih dahulu, kami semua naik ojek.
Setelah berunding, kami memutuskan untuk naik ojek. Tarifnya mahal sekali! Rp
15.000,00 untuk sekali jalan, aku yang merasa menjadi tour guide dari kelima temanku merasa tidak enak karena, pada
sebelumnya aku hanya menganggarkan perjalanan ini menghabiskan dana Rp
37.500,00 saja.
Setelah sampai pada jalan yang telah ditutup, kami dipaksa
untuk berjalan kembali. Udaranya kurang bersahabat , sangat dingin. Sehabis kita
melewati kurang lebih 500 meter, kami naik ojek lagi untuk ke Ranu Pani. Dan lagi-
lagi kita mengeluarkan uang Rp 15.000,00 lagi!!
Pada malam itu, kami semua sampai di desa terakhir sebelum
berjalan ke Gunung Semeru. Setelah berbenah
dan memantapkan diri, kami berangkat beriringan dengan formasi Aku, Agung,
Nuri, Rima dan Chabib. Aku ditaruh depan karena yang tahu jalannya dan Chabib
ditaruh dibelakang karena dia yang paling tinggi sehingga memungkinkan dia
memeriksa jumlah anggota dan harus selalu dipastikan berjumlah lima.
Trekking malam memang susah dan
kami semua di tuntut harus extra hati-hati! Jalannya sangat panjang dan kami
fisik kami semua masih dibawah standar karena itu, perjalanan Ranu Pani – Ranu Kumbolo
kita menghabiskan waktu 6 jam. What a
waste!
Di perjalanan pos 3 ke pos 4,
Agung yang sedari tadi membawa carrier
kurang dapat melihat adanya lobang yang cukup besar. Parahnya lobang tersebut mudah
longsor. Agung terperosok dan hampir saja jatuh ke jurang serta kehilangan
nyawanya! Semua yang dibelakang teriak dan aku yang sedari tadi di depan
bergegas melihat kondisi Agung yang malang itu. Beruntungnya Chabib cukup
cekatan menggapai tangan kiri Agung dengan sangat kuat. Karena posisi kami yang
menegangkan itu, para pendaki lain juga bergegas ke tempat kami dan berniat
menolong Agung yang sama sekali belum bisa ditarik ke atas dan Chabib hanya
bisa menahannya. Bukan pertolongan yang kami dapat, malah pendaki itu ikut
terperosok ke jurang yang sama. Entah karena apa, mungkin karena hormon Adrenal
dan seatas izin Allah dengan sekali tarik oleh tangan kananku, pendaki tadi
terangkat dan dapat terselamatkan. Sekarang giliran Agung yang harus segera
tertolong karena aku yakin Chabib tidak lama lagi dapat menahan Agung. Kami
semua membantu Chabib untuk dapat menarik Agung ke atas. Dan akhirnya
berhasil!!! Kami semua berhenti sejenak menenangkan diri masing-masing atas
kejadian apa yang telah terjadi. Setelah tenang, kami semua meneruskan
perjalanan dengan extra hati-hati dan penuh konsentrasi.
Kami semua telah sampai di Ranu
Kumbolo, karena udaranya sangat dingin, kami bergegas mendirikan tenda. Dan mulai
beristirahat di dalam kantung tidur kami masing-masing di “gubug derita” kami.
Langganan:
Postingan (Atom)